Oleh Yudi Candra, Business Blindspot Strategist™ • Oktober 2026
Konflik dengan partner bisnis biasanya tidak dimulai dari uang. Dimulai dari harapan yang tidak pernah diucapkan: siapa kerja seberapa banyak, siapa memutuskan apa, dan bisnis ini mau dibawa ke mana. Uang baru muncul belakangan, sebagai tempat semua kekecewaan itu ditagih.
Di awal, semuanya mudah. Dua orang dengan satu ide. Pembagian saham diputuskan dalam satu kali makan malam. "Kita kan sudah saling percaya."
Lima tahun kemudian, satu orang merasa memikul semuanya. Yang satu lagi merasa kontribusinya tidak dihargai. Rapat berubah jadi ajang menghitung siapa paling berjasa.
Tidak ada yang berubah jadi jahat. Yang berubah adalah hidup mereka, dan bisnis yang tumbuh ke arah yang tidak pernah mereka sepakati.
Apa Kata Riset?
Noam Wasserman, saat menjadi profesor di Harvard Business School, mempelajari keputusan sekitar 10.000 pendiri startup di Amerika untuk bukunya The Founder's Dilemmas.
Titik berangkatnya adalah angka yang sering salah dikutip. Studi Gorman dan Sahlman tahun 1989 menanyai investor modal ventura kenapa perusahaan portofolio mereka gagal. Sekitar 65 persen alasannya masalah orang: ketegangan antar pendiri, atau antara pendiri dan orang yang mereka rekrut. Bukan pasar, bukan produk.
Angka ini sering beredar sebagai "65 persen startup gagal karena konflik co-founder". Itu kurang tepat. Yang diukur adalah alasan kegagalan menurut investor, dan masalah orangnya lebih luas dari sekadar antar pendiri.
Data Wasserman sendiri punya dua temuan yang lebih dekat ke topik ini.
Lebih dari separuh tim pendiri di datanya dibentuk bersama teman atau keluarga. Wasserman menyebutnya bermain api. Bisa jadi tim paling solid, bisa juga meledak, karena orang cenderung menghindari percakapan sulit dengan orang dekat, justru supaya hubungannya tidak rusak.
Temuan kedua: 73 persen tim membagi saham dalam bulan pertama, dan kebanyakan menganggap pembagian itu final. Pola yang paling umum, dibagi rata. Padahal di bulan pertama belum ada yang tahu siapa akan bekerja seberapa banyak.
Dari Indonesia, data yang paling dekat datang dari survei PwC 2025 terhadap 67 bisnis keluarga. Hanya 36 persen yang punya perjanjian pemegang saham, dibanding 48 persen secara global. Aturan soal masuk dan keluarnya pemegang saham lebih jarang lagi: 9 persen, dibanding 22 persen secara global.
Catatan: data Wasserman berasal dari startup di Amerika, kebanyakan teknologi. Data PwC berasal dari bisnis keluarga, bukan kemitraan pada umumnya. Keduanya bukan potret langsung kemitraan bisnis di Indonesia. Tapi keduanya menunjuk ke arah yang sama: aturan main jarang ditulis saat semua masih akur.
Sumber Konflik yang Sebenarnya
Kontribusi yang tidak seimbang. Saham dibagi rata di awal. Lima tahun kemudian, satu orang bekerja penuh waktu dan yang lain sudah sibuk dengan usaha lain. Pembagiannya masih sama.
Arah yang berbeda. Satu ingin ekspansi agresif. Satu ingin bisnis stabil dan dividen rutin. Keduanya masuk akal. Tidak bisa dijalankan sekaligus.
Cara memutuskan yang berbeda. Satu cepat dan intuitif. Satu harus lihat data dulu. Di awal ini terasa saling melengkapi. Di bawah tekanan, ini terasa saling menghambat.
Hidup yang berubah. Menikah, punya anak, orang tua sakit, ambisi bergeser. Kemitraan yang dibangun untuk hidup lima tahun lalu tidak selalu cocok untuk hidup sekarang.
Yang Jarang Dibaca: Bisnis Ini Berarti Apa buat Masing-Masing
Di bawah semua sumber konflik tadi, biasanya ada satu pertanyaan yang tidak pernah diajukan. Bisnis ini sebenarnya berarti apa buat Anda, dan buat partner Anda?
Wasserman menyebut salah satu bentuknya sebagai pilihan antara kaya dan raja. Ada pendiri yang paling ingin tetap memegang kendali, walau bisnisnya tumbuh lebih lambat. Ada yang rela melepas kendali asal nilai bisnisnya membesar.
Dua orang dengan jawaban berbeda bisa akur bertahun-tahun. Sampai datang keputusan yang memaksa memilih: investor mau masuk, perlu CEO profesional, atau ada tawaran akuisisi.
Bagi satu orang, bisnis itu identitas. Bukti dirinya. Bagi yang lain, bisnis itu kendaraan menuju hal lain. Dua-duanya sah.
Masalahnya, konflik yang kelihatannya soal strategi sering sebenarnya benturan dua jawaban ini. Dan selama yang dibahas cuma strateginya, percakapannya akan berputar di tempat yang sama.
Satu Kasus: Tiga Partner, Dua Jalur Bicara
Saya pernah menemui konflik seperti ini di sebuah perusahaan kesehatan. Partnernya tiga orang: kakak beradik, dan satu partner profesional.
Kakak dan adik itu tidak solid. Mereka jarang membicarakan bisnis berdua.
Yang rutin berdiskusi dengan partner profesional hanya sang adik. Sang adik tipe yang saya sebut Si Nunggu Sempurna. Rencananya selalu hampir siap.
Partner profesional tidak menyetor modal. Arah kerjanya lebih banyak mengikuti sang adik, orang yang setiap hari dia ajak bicara.
Sang kakak menjaga jarak. Dia hanya mengurus uang. Tidak pernah benar-benar ikut rapat, dan hampir tidak pernah bicara langsung dengan partner profesional.
Lalu uangnya mulai bocor banyak. Sang kakak mengambil alih bisnis dan memutus kerja sama dengan partner profesional.
Dari luar, konfliknya terlihat soal uang. Padahal uang cuma tempat semuanya akhirnya ditagih.
Yang sebenarnya terjadi: tiga orang menjalankan satu bisnis lewat dua jalur bicara yang tidak pernah bertemu. Sang kakak hanya melihat angka. Partner profesional hanya mendengar sang adik. Tidak pernah ada satu meja tempat ketiganya menyepakati siapa memutuskan apa.
Posisi partner tanpa modal juga paling rawan. Kontribusinya berupa kerja. Kalau nilai kerja itu tidak dituliskan sejak awal, begitu uang jadi masalah, dialah yang paling mudah dilepas.
Empat Pertanyaan Sebelum Memutuskan
1. Masalahnya di peran atau di orangnya?
Banyak konflik partner sebenarnya konflik peran. Dua orang sama-sama merasa berhak memutuskan hal yang sama. Kalau perannya dipisah dengan jelas, konfliknya bisa mereda tanpa harus berpisah.
2. Sudah pernah dibicarakan terbuka, dengan aturan main?
Bukan obrolan sambil kesal di sela rapat. Percakapan yang dijadwalkan, dengan agenda, kalau perlu dengan pihak ketiga yang tidak berpihak.
3. Kalau bisnis ini dimulai hari ini, apakah Anda akan memilih dia lagi?
Jawab sendiri, dengan jujur. Kalau jawabannya jelas tidak, dan alasannya bukan soal emosi sesaat, itu informasi penting.
4. Apa yang sebenarnya Anda takutkan dari berpisah?
Kadang yang menahan bukan bisnisnya. Yang menahan rasa bersalah, atau takut kehilangan pertemanan yang sudah lama. Itu sah. Tapi perlu dipisahkan dari pertimbangan bisnis.
Kalau Memilih Bertahan
Tulis ulang aturan mainnya, seolah-olah Anda baru memulai.
- Siapa memegang keputusan apa, dan sampai batas nilai berapa.
- Bagaimana kontribusi dinilai, termasuk kontribusi kerja dari partner yang tidak menyetor modal.
- Kapan dan bagaimana perbedaan pendapat dibahas, dengan semua partner di meja yang sama.
Bertahan tanpa mengubah apa-apa biasanya cuma menunda percakapan yang sama ke tahun depan, dengan taruhan yang lebih besar.
Kalau Memilih Berpisah
Urus seperti urusan bisnis, bukan urusan perasaan.
Tentukan nilai bisnis dengan cara yang disepakati bersama, lebih baik lewat penilai independen. Sepakati siapa membeli bagian siapa, dengan harga dan jangka waktu yang jelas. Atur juga nasib pelanggan dan karyawan yang selama ini dipegang bersama.
Untuk aspek hukumnya, seperti pengalihan saham atau sengketa, libatkan notaris dan advokat yang memahami hukum perusahaan. Artikel ini bukan nasihat hukum.
Yang paling mahal biasanya bukan perpisahannya. Yang paling mahal adalah perpisahan yang berlarut-larut, ketika bisnis dijalankan setengah hati oleh orang-orang yang sudah tidak saling percaya.
Pelajaran untuk Kemitraan Berikutnya
Saya sendiri pernah mengalami versi lain dari pola ini. Bersama seorang partner, saya membangun startup pendidikan yang tidak pernah diluncurkan, karena kami sama-sama menunggu produknya sempurna. Penundaan itu akhirnya ikut memecah kemitraan kami. Ceritanya saya tulis di Kenapa Saya Selalu Menunda Eksekusi?
Yang tidak pernah kami bicarakan terbuka: sampai kapan kami mau menunggu.
Dari dua kasus itu, pelajarannya sama. Tulis aturan main dan aturan keluar ketika semua masih akur. Bukan karena tidak percaya. Justru karena saat itulah semua orang masih bisa berpikir adil.
Pertanyaannya sederhana: kalau suatu hari salah satu dari kita ingin keluar, bagaimana caranya?
Wasserman memberi contoh satu tim yang menulis perjanjian pendirinya seperti rangkaian "kalau, maka". Kalau satu pendiri aktif penuh, pembagian sahamnya sekian. Kalau cuma paruh waktu, sekian. Kalau dia keluar, begini cara sahamnya dibeli kembali.
Kedengarannya dingin. Tapi perjanjian seperti itu yang membuat hubungan selamat ketika hidup salah satu pendiri berubah.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Kapan harus pisah dengan partner bisnis?
Ketika perbedaannya menyangkut arah bisnis yang tidak bisa dijalankan bersamaan, sudah dibicarakan terbuka, dan pemisahan peran tidak menyelesaikannya. Kalau konfliknya soal peran atau cara berkomunikasi, sering masih bisa diperbaiki.
Bagaimana membagi saham saat pecah kongsi?
Mulai dari dokumen yang sudah ada: anggaran dasar, perjanjian pemegang saham, atau perjanjian kerja sama. Kalau tidak ada aturannya, nilai bisnis perlu ditentukan bersama, idealnya lewat penilai independen. Untuk prosesnya, konsultasikan dengan notaris atau advokat.
Bisakah partner dipaksa keluar?
Tergantung isi anggaran dasar, perjanjian yang ada, dan bentuk badan usahanya. Ini pertanyaan hukum, jadi jawabannya harus dari advokat yang membaca dokumen Anda.
Bagaimana kalau partnernya keluarga sendiri?
Lapisannya bertambah, karena perpisahan bisnis bisa ikut merusak hubungan keluarga. Kalau ada partner dari luar keluarga, pastikan dia tidak hanya berhubungan dengan satu anggota keluarga saja. Polanya saya bahas di Kenapa Masalah Bisnis Keluarga Sulit Diselesaikan?
Kalau Anda dan partner sudah berkali-kali membahas hal yang sama dan selalu berakhir di tempat yang sama, yang diperebutkan sering bukan yang sedang dibahas. Pembacaan dari pihak yang tidak punya kepentingan di antara kalian bisa membantu melihat apa yang sebenarnya diperebutkan. Itu yang dikerjakan di Blindspot Reading™.
Baca Juga
- Kenapa Saya Selalu Menunda Eksekusi?
- Kenapa Masalah Bisnis Keluarga Sulit Diselesaikan?
- Anak Tidak Mau Meneruskan Bisnis Keluarga. Apa yang Sebenarnya Terjadi?
Sumber data: Noam Wasserman, The Founder's Dilemmas: Anticipating and Avoiding the Pitfalls That Can Sink a Startup (Princeton University Press, 2012); ringkasan temuannya di Business of Software. Angka 65 persen berasal dari Gorman dan Sahlman, "What Do Venture Capitalists Do?", Journal of Business Venturing (1989), sebagaimana dikutip Wasserman. PwC Indonesia, Family Business Survey 2025, Indonesia Report.


