Oleh Yudi Candra, Business Blindspot Strategist™ • Oktober 2026
Tim tidak sejalan dengan visi pemilik jarang terjadi karena membangkang. Lebih sering mereka tidak tahu apa yang sebenarnya diprioritaskan. Visinya hanya jelas di kepala pemilik, dan prioritasnya berganti lebih cepat daripada sempat dijelaskan.
Pemilik merasa sudah berkali-kali menjelaskan arah perusahaan. Di rapat awal tahun. Di grup WhatsApp. Di sambutan acara ulang tahun kantor.
Tapi yang dikerjakan tim tetap tidak nyambung. Semua orang sibuk sampai lembur, dan arahnya ke mana-mana.
Kesimpulan yang paling cepat: timnya tidak punya rasa memiliki. Kenyataannya, pesannya sering belum sampai dalam bentuk yang bisa dikerjakan.
Berapa Banyak Manajer yang Tahu Prioritas Perusahaannya?
Donald Sull dan timnya di MIT Sloan meneliti hal ini selama bertahun-tahun.
Dalam artikel Harvard Business Review tahun 2015, mereka melaporkan survei terhadap 7.600 manajer di 262 perusahaan dari 30 industri. Hanya 55 persen manajer tingkat menengah yang bisa menyebut minimal satu dari lima prioritas utama perusahaannya. Artinya, diberi lima kesempatan, hampir separuh tidak bisa menyebut satu pun.
Di MIT Sloan Management Review tahun 2018, mereka menganalisis 124 organisasi. Hanya 28 persen eksekutif dan manajer yang bertugas menjalankan strategi bisa menyebut tiga prioritas strategis perusahaannya.
Temuan yang paling relevan untuk pemilik bisnis ada di sini. Penurunan paling tajam justru terjadi di lapis teratas, antara tim puncak dan orang yang langsung melapor ke mereka. Di perusahaan yang mereka teliti, rata-rata hanya 51 persen anggota tim puncak bisa menyebut tiga dari lima prioritas utama perusahaannya. Satu lapis di bawahnya, tinggal 22 persen.
Tim puncak juga menilai keselarasan perusahaannya lebih tinggi daripada penilaian manajer di bawahnya, di semua aspek yang diukur. Yang di atas merasa semuanya sudah jelas.
Catatan: riset ini tidak dilakukan pada bisnis keluarga Indonesia. Respondennya pimpinan dan manajer di organisasi yang punya beberapa lapis jabatan. Di bisnis menengah milik pemilik, jaraknya lebih pendek. Tapi polanya sering sama, karena di sana "tim puncak" sering kali cuma satu orang: pemiliknya.
Kenapa Visi Saja Tidak Cukup?
Visi tidak bisa dikerjakan. Prioritas bisa.
"Menjadi perusahaan terdepan di bidang kami" adalah visi. Tidak ada karyawan yang bisa mengerjakannya dan tetap semangat, apalagi di hari Senin.
Yang bisa dikerjakan adalah prioritas. "Tahun ini kita fokus ke pelanggan korporat, bukan retail." "Kuartal ini semua keluhan harus dijawab dalam 24 jam."
Banyak pemilik berhenti di visi. Merasa sudah menyampaikan arah. Padahal yang dibutuhkan tim adalah jawaban untuk pertanyaan yang lebih sederhana: kalau dua pekerjaan bertabrakan, mana yang dikerjakan duluan?
Nilai perusahaan bisa jatuh ke lubang yang sama. Saya pernah menemukannya di sebuah perusahaan di Jawa Tengah yang nilai nomor satunya ibadah. Nilai yang baik, tapi tidak memberi jawaban waktu tim harus memutuskan harga atau siapa yang dipromosikan. Ceritanya saya tulis lengkap di artikel tentang core values yang tidak dijalankan karyawan.
Tes Lima Orang: Cara Mengecek Tim Sudah Sejalan atau Belum
Tulis dulu jawaban Anda sendiri. Setelah itu, tanyakan ke lima orang di perusahaan Anda, satu per satu, tanpa pemberitahuan sebelumnya:
"Apa tiga hal paling penting yang harus dicapai perusahaan tahun ini?"
Pilih dari level berbeda: satu manajer, satu supervisor, satu staf senior, satu staf baru, satu dari bagian yang jarang Anda temui.
Catat jawaban mereka, lalu bandingkan dengan jawaban Anda.
Kalau jawaban mereka mirip satu sama lain tapi beda dengan jawaban Anda, prioritas yang sebenarnya berjalan di perusahaan bukan prioritas Anda. Kalau jawaban mereka beda-beda semua, belum ada prioritas yang benar-benar sampai.
Kenapa Tim Tidak Sejalan dengan Visi Pemilik?
Ini bagian yang perlu dibaca dengan jujur, karena sumbernya sering pemiliknya sendiri.
Prioritas berganti terlalu sering. Pemilik yang cepat menangkap peluang punya ide baru tiap minggu. Setiap ide terasa mendesak. Tim mengikuti, lalu ide berikutnya datang sebelum yang pertama selesai. Lama-lama tim belajar untuk menunggu, karena yang dikerjakan hari ini mungkin dibatalkan minggu depan. Pola pemilik seperti ini saya bahas di Kenapa Banyak Ide Bisnis Saya Tidak Ada yang Benar-Benar Tumbuh?
Prioritas terus ditambah, tidak ada yang dihentikan. Setiap prioritas baru diumumkan. Tidak ada yang mengumumkan prioritas lama mana yang boleh ditinggalkan. Akhirnya semuanya prioritas, dan artinya tidak ada yang prioritas.
Instruksi langsung melompati manajer. Pemilik bicara langsung ke staf. Manajer tidak tahu. Staf sekarang punya dua atasan dengan dua arah. Polanya mirip dengan yang saya bahas di Kenapa Bisnis Saya Tidak Bisa Ditinggal?
Gaya seperti ini sering justru yang membuat bisnis tumbuh di awal. Cepat memutuskan, langsung turun tangan. Gaya yang sama sering jadi penghambat begitu bisnisnya membesar. Pemiliknya biasanya yang paling terakhir melihat ini.
Bagaimana Cara Menyamakan Visi dengan Tim?
Jangan mulai dari visinya. Mulai dari prioritasnya, atau bahkan mulai dulu dari training penyelarasan value nya
Kurangi. Pilih sedikit prioritas untuk satu periode. Saran saya tidak lebih dari tiga. Kalau ada yang baru masuk, umumkan juga mana yang keluar.
Terjemahkan ke bahasa pekerjaan. Untuk setiap prioritas, jawab: apa artinya untuk bagian penjualan, dan apa artinya untuk gudang? Kalau Anda sendiri tidak bisa menjawabnya, tim juga tidak bisa.
Mulai dari lapis kedua. Jarak terbesar ada di antara pucuk pimpinan dan orang yang langsung melapor kepadanya. Saran Sull dan timnya: sebelum mengadakan pertemuan besar lagi, urus dulu lapis ini. Satu acara untuk seluruh karyawan tidak menggantikan percakapan serius dengan tiga atau empat orang kunci.
Biasakan menjelaskan alasannya. Dalam riset MIT Sloan yang sama, prediktor terkuat keselarasan strategi adalah seberapa konsisten atasan menjelaskan kenapa prioritas itu penting, untuk perusahaan secara keseluruhan dan untuk timnya sendiri.
Ulangi tes lima orang setiap tiga bulan. Bukan untuk menilai karyawan. Untuk menilai seberapa jelas Anda menyampaikan.
Pertanyaan yang Sering Muncul
Apa bedanya visi, misi, dan prioritas?
Visi menjawab mau jadi apa. Misi menjawab untuk apa perusahaan ada. Prioritas menjawab apa yang harus dicapai dalam periode ini, dan apa yang didahulukan kalau terjadi tabrakan. Tim bekerja paling banyak dengan prioritas.
Kenapa karyawan tidak paham visi perusahaan?
Biasanya karena visinya tidak pernah diturunkan jadi prioritas yang bisa dikerjakan, dan alasannya tidak pernah dijelaskan. Karyawan bekerja dengan tugas harian. Kalau tugas itu tidak pernah dikaitkan dengan arah perusahaan, visinya tetap terdengar seperti slogan.
Bagaimana kalau manajer sudah sejalan tapi staf belum?
Periksa apakah manajer menjelaskan alasannya, bukan cuma meneruskan perintah. Staf yang hanya menerima perintah tanpa alasan akan mengerjakan sesuai instruksi, tapi tidak bisa mengambil keputusan sendiri saat situasinya berubah.
Apakah visi perlu ditulis dan dipajang?
Boleh, tapi itu bukan ukuran keberhasilan. Ukurannya: apakah orang di perusahaan Anda bisa menyebut prioritasnya tanpa melihat dinding.
Berapa jumlah prioritas yang ideal?
Tidak ada angka baku dari riset. Dalam sampel Sull dan timnya, lebih dari 80 persen perusahaan punya tiga sampai lima prioritas strategis. Saran praktis saya lebih ketat: sedikit, sampai setiap orang bisa menyebutnya tanpa berpikir lama. Untuk kebanyakan bisnis menengah, tiga sudah banyak.
Kalau tim tidak sejalan dengan visi pemilik dan Anda ingin membereskannya dalam satu proses, mulai dari pembacaan pemiliknya, lalu sesi bersama tim. Lihat program In House Training.
Baca Juga
- Kenapa Pelatihan Karyawan Tidak Berdampak?
- Karyawan Terbaik Jadi Supervisor, Lalu Gagal
- Jangan Pecat Dulu Sebelum Anda Tahu Siapa yang Bisa Beradaptasi
Sumber data: Donald Sull, Rebecca Homkes, dan Charles Sull, "Why Strategy Execution Unravels and What to Do About It", Harvard Business Review, Maret 2015. Donald Sull, Charles Sull, dan James Yoder, "No One Knows Your Strategy, Not Even Your Top Leaders", MIT Sloan Management Review, 2018.


